Selasa, 2007 Juli 17
Mencari yang Hilang?
Di bukit-bukit aku menanak batu

Di bukit-bukit aku mencoba melupakanmu

Wajahmu, hanya wajahmu yang menghampar di kehijauan

Wajahmu, hanya wajahmu yang terlukis di tikungan

Langit tidak punya cahaya, awan tidak putih bersih

Hingga malam tiba, aku merasa sendiri, dingin dan berembun

Malam tiba, gelap tiba di tikungan

Lampu satu-satunya mulai bercahaya, menabur di tikungan

Menaburkan cahayanya ke mukaku dan berkata: Lupakanlah!

(Puisi Seorang Teman)


Melesak-lesak juga rupanya keresahan ini. Tak peduli bermeter-meter bentangan nyali kugelar untuk menutupinya, tetap pula melesak-lesak.


Sebuah awal minggu yang tak cerah dan cuma mampu diobati dengan kehadiran seorang kawan dari jauh. Seorang kawan yang tak sanggup lagi kujamu lebih kecuali dengan sebungkus mie instant mentah. Dan demi waktu yang menggerogoti kami berdua di kamar pengap, kegelisahan bertukar-tukar dari mulut kami. Meluncur-luncur hendak dilepaskan, apa daya terpantul kembali dan malah semakin menusuk ke dalam.

Seandainya semuanya sederhana. Sesederhana kebiasaan kawanku ketika membakar sebatang rokok: menyalakan sebatang korek, berbicara sebentar, sampai mati batang korek itu. Lalu menyalakan sebatang korek lagi dan lalu menyulutnya semburna ke batang rokok. Atau sesederhana tawa kami ketika menonton film indonesia paling well-made, Berbagi Suami. Sayup-sayup terdengar soundtrack film itu. Memberi jeda hening yang nikmat. Di awal minggu ini, ucapan terima kasih disampaikan kepada White Shoes and The Couples Company dan Sore (Setuju dengan majalah Times, Sore band terbaik Asia) yang semakin membuat Berbagi Suami semakin superb.

Ya, seandainya semuanya sederhana. "Melepaskan kehendak," seperti pernah dikatakan padaku. Tapi hidup memang dikutuk untuk tak pernah sederhana. Selalu. Selalu saja ada kerumitan. Seolah mengolok kelemahan diri ini. Dan entah siapa, adakah yang tertawa?

Aku ingin pulang. Meninggalkan semuanya di sini. Tapi bahkan untuk itu pun aku tak mampu. Awal keparat berujung dengan akhir yang keparat, persis kata Pram.
 
posted at 00:44 | Permalink | 2 comments
Sabtu, 2007 Juli 07
Overdosis
"....dia tahu harusnya ke mana dan ada di mana saat ini. dan lagi, dia tahu di mana mencari kamu... perjalanan masih panjang. pandai2lah menabung rasa, menyimpan hati...."

Agak-agak menjadi malu juga akhirnya di tanggal istimewa ini, 070707. Tak sampai lima jam, sudah dua orang yang melempar kalimat ini ke muka saya dengan redaksi yang nyaris persis, "mulailah berpikir realistis!"

Bukan malu kepada si pemilik kalimat, tapi justru kepada diri sendiri. Hari ini senja hadir bersamaan dengan kemurungan dalam hati. Sebuah kemurungan yang bertahun-tahun terus diam di hati. Dan malam ini, betapa keletihan menghinggap di pundak saya. Buk! Dan murung lagi.

"Iya, saya letih sekali." Saya katakan itu ke beberapa orang terdekat hari ini.

Dan sungguh mati, saya ingin menyudahinya. Ini mungkin seperti overdosis obat tanpa resep dokter. Atau mungkin seperti ruang pengap yang masih juga tak berhenti dihembusi asap rokok. Bikin mual sekaligus muak.

Lima hari ke belakang sampai hari ini, berkali-kali kalimat serupa di atas saya dengar dari orang-orang berbeda. "Berpikir realistis!"

Saya tak ingin lagi mengigau dalam tidur. Saya tak ingin lagi berlari ke minuman keras. Saya tak ingin lagi menaruh kesumat pada hidup yang memang terkadang busuk ini. Habis dimain-mainkan penafsir agama, kini harus dimain-mainkan perasaan sendiri. Seolah kerangkeng diciptakan tanpa kunci pembukanya. Saya ingin percaya bahwa itu mustahil!

Pagi buta begini, saya tiba-tiba menjadi berpikir-pikir: Sampai suatu masa kelak, hari ini mestinya tak perlu lagi memikirkan perempuan. Kecuali dua perempuan, dua saja: Ibu dan kakak saya. Lalu pergi berkemas meninggalkan tempat ini dan memulai hidup baru.

Beberapa teman-teman berjanji menunggu saya di Jakarta. "Nanti kita minum kopi bareng," kata seseorang. "Nanti saya seret-seret untuk capoera," kata seorang lagi. "Kita main bola di monas dan nongkrong di Sabang," kata yang lain lagi.

Dengan nama apapun, tunggu saya. Saya berkemas mulai sekarang....
 
posted at 11:51 | Permalink | 0 comments
Senin, 2007 Juli 02
Tentang Rumah
"Victory is empty
There are lessons in defeat"

- Dead from the Waist Down, Catatonia


Terima kasih telah mengenalkan pada saya tentang arti sebuah rumah. Sebuah tempat untuk pulang, tinggal, dan meletakkan hidup. Terima kasih untuk semua waktu yang pernah diberikan pada saya, hingga saya mengenal betul apa sesungguhnya rumah itu. Sangat terima kasih.

"Hanya bilik bambu," begitu dulu kita sering mengutip sebuah lagu. Menuliskan lirik lengkapnya di samping foto berdua kita. Tapi kita tahu betul, itu rumah yang indah. Meski foto itu kemudian juga jadi bahan olok-olok kawan-kawan kita karena citra yang dihasilkan gambarnya kemudian: rumah mungil kontrakan, motor punya seorang teman, dan kita duduk di berandanya seolah-olah pasangan paling bahagia di dunia.

Terima kasih telah mengenalkan pada saya tentang arti sebuah rumah. Masih kamu ingat pesan pendek yang saya kirimkan ke kamu? Saya sedang berada dalam bus menuju kota tempat saya dibesarkan. Setengah perjalanan dan selalu melamunkan kamu. Dan tiba-tiba sebuah SMS darimu menggetarkan ponsel saya, "Selamat pulang," katamu.

"Pulang?" Jawab saya. "Saya tahu tempat saya pulang, kamu!"

Semuanya pernah terjadi, dan entah bagaimana melupakannya. Perjalanan-perjalanan kepergian telah pernah dilakukan. Tapi, sampai hari ini, saya masih tahu belaka ke alamat mana saya seharusnya jika jendak melakukan perjalanan pulang.

Terima kasih telah mengenalkan saya tentang arti sebuah rumah. Sebuah rumah sesungguhnya. Sebuah rumah yang bukan cuma hal-hal indah saja yang ada, tapi sekaligus dengan segala macam paket permasalahannya - yang pada gilirannya, membuat saya juga semakin mengerti banyak soal. Banyak sekali. Seperti yang saat ini baru saja saya mulai pahami: bahwa terkadang, setiap rumah kita, tak selalu mudah untuk kita masuki kembali; bahwa ternyata, tak setiap waktu bisa kita pulang seenaknya. Saya akan belajar terus setiap hari untuk lebih memahami dua hal ini. Dan lihatlah, saya juga berjanji untuk belajar tetap "baik-baik saja" di luar sini.

Namun begitu, kekasih, biarkanlah saya tetap menyimpan alamat ini. Alamat tempat saya merasa paling nyaman untuk pulang. Izinkanlah saya.
 
posted at 08:15 | Permalink | 1 comments
Sabtu, 2007 Juni 30
Alienasi Sabtu Sore
"Don't listen to the DJ"

Itu sepenggal reffrain lagu jazz yang saya dengar hari ini. Saya dengar jazz? "Sanggup"? Lebih dari itu, saya sabtu sore ini malah menyaksikan pagelaran musik jazz, Jazz Ujung Timur. Tampil di pagelaran itu Idang Rasjidi, 4 AM Quartet, Jazz Kidding, David Manuhutu Trio, Crave, Pineapples, Palm From Moodytunes. Acaranya diselingi oleh talk show jazz oleh Dwi Cahya Yuniman (koordinator utama KlabJazz) dan Venche Manuhutu (gitaris senior dan pemilik Venche Music School).

Dan, terima kasih untuk musik jazz, saya sangat menikmati pagelaran itu. Kaki tanpa sengaja saya hentak-hentakkan. Bibir tanpa disuruh, mengembang begitu saja. Tersenyum. Tepuk tangan dengan perasaan tulus. Dan... merasa terhibur.

Tapi, jujur saja, saya merasa aneh. Bodohnya, saya pergi sendiri. Benar-benar sendiri. Saat menginjakkan kaki pertama kali di tempat acara, sekujur diri saya langsung disergap perasaan tak menentu. "Sshhh... pasti gw nyasar. Mestinya gak nekat nonton!"

Banyak di antara yang datang mengenakan kaus hitam, menenteng alat-alat musik, berambut gondrong, musicians style abis. Atau di bangku penonton banyak yang duduk bergerombolan, berempat berlima beramai-ramai. Dan tak sedikit pula di antara mereka yang ramai ikut bernyanyi atau menebak judul lagu. Intinya, mereka seperti penggemar jazz sungguhan. Lah... saya?

Maka dari itu, saya memutuskan untuk memilih duduk agak di pinggir. Meja dengan dua kursi saya tempati, satu untuk tubuh saya dan satu untuk tas punggung saya. Hot cappucino dan berbatang-batang rokok. Sendirian menonton jazz. Dalam hati, "hhmm... cuek aja." Tapi memang jadi gak konsen. Perasaan tak menentu itu terkadang mengganggu saya dalam usaha menikmati musik jazz. Terlebih saat gerombolan Idang Rasjidi cs duduk di meja sebelah saya. Ketawa-ketawa ngomongin jazz. Beberapa kali mata Idang dan mata saya saling bertumbukkan. Salah posisi.

Tapi, tiba-tiba, dari arah eskalator, berjalan wanita cantik. Jaket birunya masuk sekali dengan frame kaca matanya. Juga warna sepatu dan celananya. Match. Pelan dia berjalan ke arah deretan kursi penonton. Lima belas meter dari tempat saya. Duduk manis dan mendengar musik jazz dengan asyik. Wanita itu 'si ibu cantik', dosen saya di kampus. Masih muda dan status fs-nya single.

Jadi, maaf Pak Idang, kalau mata saya harus bertumbukkan dengan mata yang lain, biar dengan pemilik mata itu saja saya bertumbukkan. Jazz-nya pasti jadi jauh lebih asyik.
 
posted at 05:00 | Permalink | 1 comments
Jumat, 2007 Juni 29
Terakhir?
"Things are getting strange
I'm starting to worry
This could be a case for Mulder and Scully
Things are getting strange
now I can't sleep alone"

Mulder and Scully, Catatonia


Dan apa kamu tahu juga, saat kalimat milikmu ini terlontar, "pertanyaan terakhir?", aku juga tersenyum. Hanya saja, tidak seperti kamu, aku masih tetap tersenyum ketika kalimat selanjutnya adalah, "pernyataan terakhir?"

Karena aku tahu, saat itu bukan saat yang benar-benar terakhir.
 
posted at 11:51 | Permalink | 0 comments
Jadi, Apa yang Sedang Kita Lakukan?
“You know, happiness is in the doing, right, not in the... getting what you want.”
(Jesse Wallace, tokoh film Before Sunset)




Film itu saya tonton berkali-kali, Before Sunrise dan Before Sunset. Dua film yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dibuat dengan biaya rendah oleh sutradara terkenal Richard Linklater, Before Sunrise mengambil tempat di Wina, Austria. Dan sembilan tahun kemudian, Before Sunset dibuat di Paris sebagai sekuel Before Sunrise. Dua film itu dibintangi oleh Ethan Hawke (bermain sebagai Jesse Wallace) dan Julie Delpy (sebagai Celine). “Seperti kembali bersatunya sebuah band,” kata Ethan Hawke mengomentari soal pembuatan sekuel itu kepada Los Angeles Times. Dalam Before Sunset, tidak hanya sebagai bintang, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga turut ambil bagian menjadi penulis skenario.

Banyak yang bisa saya petik dari dialog-dialog menarik dalam dua film itu. Film itu memang menampilkan kekuatannya dalam dialog-dialog sepanjang adegan. Nyaris tanpa putus dari awal hingga akhir. Tapi, ketika malam tadi saya menonton sekali lagi Before Sunset, betapa saya terkesima dengan kalimat yang dilontarkan Jesse Wallace yang saya kutipkan di atas. Dan, walhasil, setelah nonton film itu, saya berpikir-pikir panjang dan lama. “Rasa-rasanya memang benar,” ujar saya dalam hati, “Kebahagiaan bukan karena apa yang kita dapatkan, tapi karena apa yang kita lakukan....”

Siang tadi, misalnya. Siang tadi saya mendapati anak kecil tetangga saya sedang membuat layang-layang sendiri. Sekolahnya baru menginjak kelas dua SD, seragam olahraga sekolahnya belum dia lepaskan. Saya duduk di dekatnya dan memperhatikan. “Lidinya terlalu besar, pasti akan susah terbang,” kata saya berkomentar. Tak membalas ucapan saya, dia malah semakin serius mengerjakan layang-layangnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah dan lalu keluar lagi dengan membawa lem kertas. Selembar halaman koran yang berisi iklan kredit motor dia gunting sesuai ukuran rangka layangan yang telah berhasil ia buat. Dengan lem kertas, dia merekatkan guntingan koran tersebut ke benang di rangka layangan. Tak lama kemudian bibirnya melempar senyum puas, seraya tertawa kecil dia bilang, “Jadi!”

Sekarang tinggal menerbangkan.

Tapi layangan itu tidak pernah terbang. Tidak pernah bisa. Dicoba berkali-kali tetap tak bisa. Dia lalu menggunting benang dari layangan tersebut, dan mengambil layangan lamanya yang dia dapatkan dari membeli. Dia sambungkan benang, dan layangan lamanya terbang. Layangan yang dia buat sendiri, dia biarkan tergeletak di samping kakinya.

Dan sama sekali saya tak menemukan guratan kekecewaan di wajah anak kecil tetangga saya tersebut. Tawanya tetap lepas ketika yang terbang ternyata adalah layang-layang yang didapatkan karena membeli, bukan hasil buatannya sendiri. Mendadak saya menjadi semakin mengerti akan kalimat milik Jesse Walace yang saya kutip di atas, yang membahagiakan adalah karena dia telah mencoba melakukan membuat layang-layang sendiri. Dia telah berpikir untuk membuat sebuah layangan, merancangnya dalam kepala, mencari lidi, kertas koran, dan benang lalu berusaha mewujudukan apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin dia tidak mendapatkan layang-layang baru, tapi dia telah melakukannya. Jika sudah begitu, tentulah dia pantas untuk tidak kecewa dan tetap bahagia. Tak peduli yang dimainkan adalah layang-layang lama.

***

Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan. Bukankah banyak di antara kita yang tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah kita lakukan? Kita berbuat begini berbuat begitu sering tanpa kita tahu untuk apa atau mengapa? Yang lebih parah lagi, betapa sering kita melakukan sesuatu karena... orang lain melakukannya!

Banyak hal. Seakan-akan kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukannya hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya, situasi ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan bisa kita raih?

Seorang teman saya yang sejak kecil ingin belajar menari balet tidak pernah bisa melakukannya keinginannya itu karena orangtuanya tak mengizinkan. Seorang teman lagi yang pandai memintal, malah dihardik orangtuanya dengan kalimat, “Kamu disekolahkan bukan untuk jadi penjahit!” Seorang teman lagi menjadi pengikut tren habis-habisan karena, kata dia, “Ya, namanya juga anak muda!” Lalu ada pula yang setengah mati diet karena merasa bahwa yang ideal adalah yang seperti bintang iklan. Ada yang bolak-balik ke salon meniru artis ini atau artis itu.

Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan kita. Seolah-olah ada begitu banyak komando yang datang dari luar diri kita untuk kita turuti. Tak lagi bebas mengekspresikan diri kita hanya sebagai diri kita sendiri, kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak lebih dari sekadar ‘pengikut’. Lucunya, terkadang kita bisa merasa bahagia.

Ah, seandainya kita tahu apa yang sedang kita lakukan....

(printed version at seputar indonesia, 29 Juni 2007)
 
posted at 10:59 | Permalink | 1 comments